Kain Tenun Bayan Melambangkan Keberagaman Adat Dan Budaya Bayan

By 31 Mar 2018, 20:18:48 WIBReligius

Kain Tenun Bayan Melambangkan Keberagaman Adat Dan Budaya Bayan

Keterangan Gambar : Di Kediaman Rumah Bapak, Lalu Husnul Yaqin (31/3) Sabtu



LOMBOK UTARA, liputan-sriwijaya.co.id -- Kain tenun juga dapat dijadikan tolak ukur keberagaman masyarakat dipulau seribu masjid ini. Beragam corak kain tenun dibuat oleh komunitas penenun di Bayan misalnya, seperti songket, ikat dan londong abang (kain merah) menggambarkan adanya keaneka ragaman lapisan dan golongan masyarakat yang tinggal di Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara dikomunitas adat Bayan, kain tenun dengan corak tertentu wajib dimiliki oleh warga masyarakat adat, Karena biasanya kain tenunan seperti Londong Abang, digunakan ketika menghadiri acara ritual adat seperti maulidan, lebaran dan ngaji makam.

Proses pembuatan tenun Bayan menggunakan peralatan kayu dan bambu yang dioperasikan secara manual atau dengan tangan waktu pengerjaannya bisa sampai dua minggu, yang membedakan antara tenunan Bayan dengan tenunan luar Bayan adalah setiap corak yang dibuat menggambarkan pemakainya berasal dari gubuq atau kampung tertentu di Kecamatan Bayan.

Tenunan Bayan dibuat bukan hanya memperhatikan coraknya saja, akan tetapi kekontrasan warna juga disesuaikan dengan warna kulit pemakainya. Untuk mendapatkan kain tenun Bayan sebaiknya memesan terlebih dahulu. “ Selain corak, cara memakai pakaian adat komunitas Bayan juga bisa dikatakan unik, karena lengkap dengan kombinasi kain yang harus digunakan mulai dari Jong (penutup kepala), Lipaq (Kemben penutup dada), Poleng (kain yang dipaki paling bawah), dan yang terakhir Sampur yang berguna sebagai penutup lengan kiri, kesuluran pakain adat ini mulai dari Jong hingga yang terakhir Sapur digunkan khusus untuk kaum perempuan,"kata Lalu Husnul Yaqin. Sabtu (31/3/2018) Di kediamannya

Sementara dari keterangan Lalu Husnul Yaqin (Maspanji Kerthajagat Putrenggumi) salah seorang tokoh adat budaya Kabupaten Lombok Utara menuturkan, “ pakaian untuk laki-laki Sapuk (pengikat kepala), kemudian Dodot Rejasa (kain yang digunakan sebagai penutup lengan kiri) kainnya berwarna hitam dengan corak putih, terakhir Londong Abang (yang digunakan sebagai kain paling bawah)."Jelasnaya

Satu contoh ketika menghadiri ritual adat gawe Urip (gawe hidup) menggunakan corak yang berwarna-warni (poleng), sedangkan ritual adat gawe Pati (gawe mati) menggunakan warna merah atau abang dikombinasikan dengan warna hitam dan disebut Londong Abang dan Rejasa. "Tapi yang paling penting disini adalah Jong Bayan sebagai penutup kepala, karena merupakan ciri khas ikon yang secara langsung mewakili makna dari seluruh pakaian adat yang digunanakan ketika melakukan ritual adat."ujarnya

prospek kedepan yang dapat diandalkan dari kain tenun masyarakat adat Bayan menjadi salah satu aset Kabupaten Lombok Utara  memiliki potensi dikembangkan terlebih jika dikombinasikan dengan keberadaan obyek wisata yang ada di kawasan tersebut,"seperti Air terjun, rumah tradisonal (adat) hingga taman wisata Gunung Rinjani."Pungkasnya. @Sastro
 
 
 


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook, JANGAN MEMASUKKAN LINK DALAM KOMENTAR KARENA LINK ANDA SUDAH PASTI MUNCUL, JANGAN SPAM YA BROW

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Robby Prihandaya

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Calon Presiden dan Wakil Presiden RI 2019 - 2024
  Saya Belum Menentukan Pilihan
  Saya Golput Sajalah
  Jokowi dan Maruf Amin
  Prabowo dan Sandiaga Uno

Komentar Terakhir